JAKARTA – Eskalasi konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat dinilai berpotensi membawa dampak serius terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.
Hal tersebut mengemuka dalam seminar nasional yang digelar Program Doktor Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid bertajuk “Apakah Kita Menuju Perang Besar Dunia? Membaca Konflik Iran, Israel dan AS” pada Jumat (10/4/2026).
Kaprodi Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid, Dr. Yoga Santoso menegaskan bahwa konflik Timur Tengah saat ini, tidak dapat dipahami sebagai perang biasa.
Menurutnya, ketegangan tersebut telah menjadi krisis global multidimensi yang melibatkan geopolitik, keamanan internasional, energi, hingga perang narasi digital.
“Dunia menghadapi bentuk peperangan baru yang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di ruang persepsi publik.
Dampaknya bisa merembet ke ekonomi internasional, diplomasi antarnegara, hingga stabilitas energi,” ujar Dr. Yoga Santoso kepada wartawan, Sabtu (11/4/2026).
Dalam diskusi tersebut, praktisi komunikasi strategis, Didin Nasirudin menyoroti risiko besar yang dapat muncul apabila konflik semakin meluas.
Ia menyebut salah satu ancaman terbesar adalah lonjakan harga energi dunia, akibat terganggunya jalur distribusi minyak di kawasan Timur Tengah.
Didin menilai Indonesia harus mulai bersiap menghadapi kemungkinan tekanan ekonomi yang muncul, akibat kenaikan harga minyak dan gas.
Menurutnya, lonjakan harga energi bisa menambah beban subsidi BBM dan berdampak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Selain itu, gangguan pada rantai logistik global juga menjadi ancaman serius. Ia menilai jalur perdagangan internasional dapat terganggu
Apabila konflik berujung pada ketegangan di kawasan Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis energi dunia.
“Indonesia harus menjalankan diplomasi jembatan sebagai mediator netral-terbatas. Namun di sisi lain juga harus memperkuat kemandirian alutsista, ketahanan pangan, dan ketahanan energi,” kata Didin.
Dia menambahkan, bahwa kondisi geopolitik global yang tidak menentu menuntut Indonesia untuk lebih mandiri dalam sektor strategis.
Maka ketahanan nasional tidak cukup hanya mengandalkan stabilitas politik, tetapi juga kesiapan ekonomi dan teknologi.
Seminar nasional tersebut juga menghadirkan analis geopolitik Timur Tengah KH. Fathurahman Yahya dan produser media nasional, Henry Sianipar
Konflik Iran, Israel dan AS adalah fenomena global yang akan memengaruhi stabilitas dunia, dalam jangka panjang.(red)












