KUDUS – Tradisi pengajian jam’iyyah yasin fadhilah yang kini semakin berkembang di wilayah Kabupaten Kudus
Hari ini ternyata memiliki akar sejarah panjang, dan bermula dari wejangan ulama kharismatik yang sangat dihormati masyarakat.
Mantan Bupati Kudus dua periode, H. musthofa, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut, bermula dari sebuah ijazah amalan yang ia terima
Ketika masih menjabat sebagai kepala daerah. amalan itu diberikan langsung oleh KH sya’roni ahmadi, salah satu ulama besar Kudus yang dikenal luas, karena kewibawaan serta kedalaman ilmunya.
Musthofa menceritakan, awal mula jam’iyyah yasin fadhilah terjadi ketika dirinya bersilaturahmi kepada KH sya’roni ahmadi.
Dalam pertemuan itu, ia mengaku meminta amalan khusus sebagai penguat batin, agar mampu menjalankan amanah kepemimpinan dengan tenang dan istiqomah.
“Ketika itu saya meminta amalan untuk menenangkan batin, supaya bisa menjalankan tugas dengan lebih istiqomah,” ungkap Musthofa kepada wartawan, Rabu (6/5/26).
Dari pertemuan tersebut, musthofa mendapatkan ijazah membaca surat yasin sebanyak 41 kali.
Namun seiring mendalami amalan tersebut, dia memahami bahwa bacaan itu mengarah pada tradisi yasin fadhilah, yang diyakini memiliki banyak keutamaan dalam kehidupan spiritual umat Islam.
Penegasan itu pun langsung dikonfirmasi oleh KH sya’roni ahmadi. “setelah saya dalami, ternyata itu yasin fadhilah. ia membenarkan,” lanjutnya.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan pengajian yasin fadhilah mulai rutin digelar dan menjadi agenda keagamaan yang kuat di Kudus.
Pada masa kepemimpinan Musthofa di periode kedua, pengajian tersebut bahkan dilaksanakan di wilayah pendopo Kabupaten Kudus dan dibuka langsung oleh KH sya’roni ahmadi.
Hal itu menjadi penanda lahirnya gerakan spiritual, yang kemudian terus tumbuh di tengah masyarakat.
Setelah tidak lagi menjabat sebagai bupati, Musthofa menekankan bahwa kegiatan pengajian tersebut tidak pernah berhenti.
Lokasi pengajian kemudian berpindah ke loram wetan, tepatnya di sekitar makam bagusan, tempat dimakamkannya orang tua musthofa.
Meski tidak lagi dihadiri para pejabat seperti sebelumnya, jam’iyyah yasin fadhilah justru semakin ramai diikuti masyarakat umum.
“Ngaji itu bukan soal tempat atau siapa yang hadir. Yang penting hati kita lebih dekat kepada Allah,” tuturnya.(AH)












