PATI I Nestapa tengah menyelimuti warga Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Tanggul sungai jebol dan abrasi laut menghantam wilayah pesisir, mengakibatkan kerusakan masif di berbagai sektor.
Dari tambak ikan, mangrove, hingga jalan desa semuanya luluh lantak, Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi menuturkan bahwa dampak kerusakan kali ini adalah yang terparah dalam lima tahun terakhir.
“Kerugian petani tambak luar biasa, terutama budidaya nila salin. Estimasi awal sudah tembus Rp 1 miliar,” tegas Setyo Wahyudi kepada detikdeadline.com, Kamis (29/5/2025).
Warga yang sehari-hari menggantungkan hidup dari tambak kini terpukul. Sebagian besar hasil panen mereka lenyap disapu banjir rob dan air sungai yang meluap.
Tak berhenti di situ, abrasi laut juga merusak ratusan pohon mangrove yang selama ini menjadi benteng alami dari gelombang pasang.
“Lingkungan pesisir rusak parah. Butuh bertahun -tahun untuk kembalikan mangrove seperti sedia kala,” lanjut Kepala Desa Tunggulsari.

Dari sisi infrastruktur, kerusakan jalan mencapai 2.300 meter. Akses vital menuju tambak dan lahan pertanian kini lumpuh.
Distribusi hasil panen terganggu, mobilitas warga tersendat, dan perekonomian desa makin tersudut.
Meski begitu, respons cepat dilakukan. BPBD Pati telah menyalurkan 136 paket bantuan logistik berupa beras 5 kg per kepala keluarga.
Namun, bantuan ini baru langkah awal. “Kami butuh solusi jangka panjang, tanggul permanen, perbaikan jalan, dan penghijauan mangrove,” kata Setyo Wahyudi.
Bencana ini menjadi alarm bagi pemerintah. Tunggulsari butuh perlindungan berkelanjutan, bukan hanya tambal sulam darurat.
Warga hanya ingin satu hal, keadilan lingkungan dan perlindungan atas kehidupan mereka yang tergantung pada laut dan sungai.(@Gus Kliwir)












